Showing posts with label Depot Sufi. Show all posts
Showing posts with label Depot Sufi. Show all posts

Tuesday, October 29, 2019

MENU MENGENAL DIRI MENGENAL ALLAH

Menu-menu Istimewa di Cafe Sufi yang akan memberikan cita rasa mengenal diri dan mengenal Allah. Silakan santap dan nikmati.

MENU MENGENAL DIRI

Di Cafe Sufi, sudah banyak orang berduyun-duyun dengan wajah-wajah beragama, dari mereka yang stress sampai mereka yang kelihatan sumringah, menanti menu apa yang bakal disuguhkan hari ini.
Rupanya di gerbang Cafe itu, terpambang “Menu Istemewa hari ini”. Mereka berkemrumun mebacanya, ingin segera berebut hidangannya. Siapa pun dari mereka merasa belum kenal dirinya sendiri, lalu mereka segera memesan “Menu Mengenal Diri “.
Sajiannya adalah sejumlah menu yang disiapkan dengan bumu-bumbu yang beraroma ma’rifatullah. Karenaa Allah  Swt, menjadikan  sebab kema’rifatan hamba kepada Tuhannya, melalui pengenalan hamba pada dirinya, “Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.”
Maknanya, bumbunya disiapkan oleh kokinya:
Sang koki mengajak sebelum mencicipi masakan ma’rifat ini, agar mereka mengenal dirinya dengan wujud kehambaannya, karena dengan demikian  maka ia mengenal Tuhannya dengan RububiyahNya.
Siapa mengenal dirinya dengan fananya, maka dia mengenal Tuhannya dengan Baqa’Nya.

Sunday, February 23, 2014

Cerita Semut dan Capung


Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
SEEKOR SEMUT dengan rencana
tersusun di pikirannya, sedang
mencari-cari madu ketika seekor
capung hinggap pada kuntum bunga itu
dan menghisap madunya. Capung itu
sebentar-sebentar terbang pergi dan
kembali lagi.
Kali ini Si Semut berkata, Kau ini
hidup tanpa usaha, juga tanpa
rencana. Karena kau tidak punya
tujuan nyata maupun cita-cita,
apakah ciri utama dari hidupmu dan ke
manakah akhirnya?

Mengejar Allah SWT


Seorang tamu di kedai itu sejak tadi pagi
memegang tasbih. Rambutnya gondrong,
menjadi lengkap disebut sebagai
pengembara ketika tongkat dan
rangselnya ada di pundaknya. Tapi
wajahnya tampak sangar, matanya
memerah dan lehernya menekuk.
"Mas, apa saya boleh berguru ke pondok
ini ya?" celetuknya pada Pardi.
"Berguru apa Mas?"
"Ya, supaya saya bisa dzikir, dan tentu
sampean tahu maksud saya..."
"Wah saya ini orang bodoh Mas. Jadi
saya tak mengerti maksud Mas..."
"Begini, singkatnya, saya sedang
mencari banyak guru, untuk memburu
ilmu, agar saya mendapatkan karomah,
kehebatan, dan sekaligus pahala. Oh, ya,
apakah keistemewaan dari dzikir dan
ilmu di sini...."
"Wooooouuuu begitu to maksud anda. Di
sini tidak mengajarkan dzikir dengan
keistemewaan supaya bisa begini dan
begitu. Kalau mengajarkan ilmu jelas
ada. Tapi bukan ilmu yang anda cari. Di
sini hanya mengajarkan ilmu menata
batin, menata jiwa, agar hubungan
dengan Allah itu punya adab. punya
etika dan sopan santun...."
"Memang kalau kita berdzikir padaAllah
itu tidak ada sopan santunnya Mas?"
tanya orang itu.

Pengalaman Suluk


Dony, pemuda yang sangat lugu, memasuki dunia thariqat sufi. Ia disarankan suluk (khalwat secara khusus di pemondokan Sufi) oleh gurunya, 41 hari, karena memang demikian aturannya.

Begitu gembira  ia berangkat ke pesulukan Sufi di Jawa Timur, yang selama hidup belum pernah ia alami. Jangankan suluk, belajar di pesantren pun belum pernah ia lakoni. Semangat Dony berkobar penuh dengan kegembiraan.

Sembari menghitung waktu dari ibukota negeri ini, Jakarta, ia menunggu hari-hari keberangkatan dengan berdebar.

Sampai di Pesulukan, hatinya semakin berdebar, tarik menarik mulai muncul, antara harus menjalani Suluk 41 hari, dengan keinginan segera pulang ke Jakarta.

Hari pertama ia suluk, sudah tidak kerasan di pesulukan. Pikiran dan hatinya ingat Jakarta, keluarga dan anak-anaknya.
Dony coba menguatkan hatinya, tapi tak mampu. Lalu berkemas-kemaslah manata pakaiannya untuk dimasukkan kopor, dan esok hari niat pulang ke Jakarta.

Saya mau pulang Mas.. pintanya pada pengurus pondok.
Lho, kenapa?
Saya nggak kuat…”
Tanya guru dulu sebelum kamu balik ke Jakarta…”
Dony menelpon gurunya, tapi dapat jawaban yang lebih mencekam hatinya.
Kalau kamu besok pagi pulang, nanti kalau kembali lagi malah saya tambah jadi 81 hari…”


Protes Terhadap Allah SWT



Dengan dengus nafas ngos-ngosan,
lelaki bertubuh tambun itu memasuki
kedai Cak San. Ia memesan air putih dua
gelas besar, untuk mengusir dahaganya.
Rupanya pagi yang dingin itu, tidak
mampu menyelimuti kegerahan dadanya.
"Dari mana Mas, kok seperti dikejar
harimau?"
Sembari menegak dua gelas air putih,
lelaki itu masih juga belum menjawab
pertanyaan Pardi.
"Jangan tanya dari mana pada saya.
Tapi saya harus bertanya lebih dulu
kepada anda-anda di sini, kemana itu
Kang Soleh? Saya ingin bikin
perhitungan dengan dia....!"
Mendengar gertakan si gendut itu,
penghuni kedai kopi cukup terhenyak.
Ada apa gerangan Kang Soleh dikejar
manusia heboh seperti dia ini. Apa Kang
Soleh punya hutang, punya kesalahan,
atau ada bratayudha antara Kang
Soleh dengan orang ini? Nggak jelas.
"Sebentar lagi juga datang Pak, sabar
sebentar," sahut Dulkamdi.
"Ya, saya ingin minta
pertanggungjawabannya!"
"Wah, pertanggungjawaban apa Pak,
kok kelihatannya penting sekali," timpal
Pardi memberanikan diri mengorek
masalah orang itu.