Sunday, February 23, 2014

Cerita Semut dan Capung


Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
SEEKOR SEMUT dengan rencana
tersusun di pikirannya, sedang
mencari-cari madu ketika seekor
capung hinggap pada kuntum bunga itu
dan menghisap madunya. Capung itu
sebentar-sebentar terbang pergi dan
kembali lagi.
Kali ini Si Semut berkata, Kau ini
hidup tanpa usaha, juga tanpa
rencana. Karena kau tidak punya
tujuan nyata maupun cita-cita,
apakah ciri utama dari hidupmu dan ke
manakah akhirnya?

Mursid Dalam Thoriqoh


Dalam setiap aktivitas rintangan itu
akan selalu ada. Hal ini dikarenakan
Tuhan menciptakan syetan tidak lain
hanya untuk menggoda dan
menghalangi setiap aktivitas manusia.
Tidak hanya terhadap aktivitas yang
mengarah kepada kebaikan, bahkan
terhadap aktivitas yang sudah jelas
mengarah menuju kejahatan pun,
syetan masih juga ingin lebih
menyesatkan.
Pada dasarnya kita diciptakan oleh
Tuhan hanya untuk beribadah dan
mencari ridla dari-Nya. Karena itu
kita harus berusaha untuk berjalan
sesuai dengan kehendak atau syariat
yang telah ditentukan. Hanya saja
keberadaan syetan yang selalu
memusuhi kita, membuat pengertian
dan pelaksanaan kita terkadang tidak
sesuai dengan kebenaran.
Dengan demikian, kebutuhan kita
untuk mencari seorang pembimbing
merupakan hal yang essensial. Karena
dengan bimbingan orang tersebut, kita
harapkan akan bisa menetralisir setiap
perbuatan yang mengarah kepada
kesesatan sehingga bisa mengantar
kita pada tujuan.
Thariqah
Thariqah adalah jalan. Maksudnya,
salah satu jalan menuju ridla Allah
atau salah satu jalan menuju wushul
(sampai pada Tuhan). Dalam istilah lain
orang sering juga menyebutnya
dengan ilmu haqiqat. Jadi, thariqah
merupakan sebuah aliran ajaran dalam
pendekatan terhadap Tuhan. Rutinitas
yang ditekankan dalam ajaran ini
adalah memperbanyak dzikir terhadap
Allah.
Dalam thariqat, kebanyakan orang
yang terjun ke sana adalah orang-
orang yang bisa dibilang sudah
mencapai usia tua. Itu dikarenakan
tuntutan atau pelajaran yang
disampaikan adalah pengetahuan pokok
atau inti yang berkaitan langsung
dengan Tuhan dan aktifitas hati yang
tidak banyak membutuhkan
pengembangan analisa. Hal ini sesuai
dengan keadaan seorang yang sudah
berusia tua yang biasanya kurang ada
respon dalam pengembangan analisa.
Meskipun demikian, tidak berarti
thariqah hanya boleh dijalankan oleh
orang-orang tua saja.
Lewat thariqah ini orang berharap
bisa selalu mendapat ridla dari Allah,
atau bahkan bisa sampai derajat
wushul. Meskipun sebenarnya thariqah
bukanlah jalan satu-satunya.
Wushul
Wushul adalah derajat tertinggi atau
tujuan utama dalam ber-thariqah.
Untuk mencapai derajat wushul
(sampai pada Tuhan), orang bisa
mencoba lewat bermacam-macam
jalan. Jadi, orang bisa sampai ke
derajat tersebut tidak hanya lewat
satu jalan. Hanya saja kebanyakan
orang menganggap thariqah adalah
satu-satunya jalan atau bahkan jalan
pintas menuju wushul.
Seperti halnya thariqah, ibadah lain
juga bisa mengantar sampai ke
derajat wushul. Ada dua ibadah yang
syetan sangat sungguh-sungguh dalam
usaha menggagalkan atau menggoda,
yaitu shalat dan dzikir. Hal ini
dikarenakan shalat dan dzikir
merupkan dua ibadah yang besar
kemungkinannya bisa diharapkan akan
membawa keselamatan atau bahkan
mencapai derajat wushul. Sehingga
didalam shalat dan dzikir orang akan
merasakan kesulitan untuk dapat
selalu mengingat Tuhan.

Mengejar Allah SWT


Seorang tamu di kedai itu sejak tadi pagi
memegang tasbih. Rambutnya gondrong,
menjadi lengkap disebut sebagai
pengembara ketika tongkat dan
rangselnya ada di pundaknya. Tapi
wajahnya tampak sangar, matanya
memerah dan lehernya menekuk.
"Mas, apa saya boleh berguru ke pondok
ini ya?" celetuknya pada Pardi.
"Berguru apa Mas?"
"Ya, supaya saya bisa dzikir, dan tentu
sampean tahu maksud saya..."
"Wah saya ini orang bodoh Mas. Jadi
saya tak mengerti maksud Mas..."
"Begini, singkatnya, saya sedang
mencari banyak guru, untuk memburu
ilmu, agar saya mendapatkan karomah,
kehebatan, dan sekaligus pahala. Oh, ya,
apakah keistemewaan dari dzikir dan
ilmu di sini...."
"Wooooouuuu begitu to maksud anda. Di
sini tidak mengajarkan dzikir dengan
keistemewaan supaya bisa begini dan
begitu. Kalau mengajarkan ilmu jelas
ada. Tapi bukan ilmu yang anda cari. Di
sini hanya mengajarkan ilmu menata
batin, menata jiwa, agar hubungan
dengan Allah itu punya adab. punya
etika dan sopan santun...."
"Memang kalau kita berdzikir padaAllah
itu tidak ada sopan santunnya Mas?"
tanya orang itu.

Munajat Kaum Sufi


Syeikh Ahmad ar-Rifay

Ketika aku di-Isrokan ke langit, aku melihat rahim sedang tergantung di Arasy, sang rahim mengadukan pada sesama rahim kepada Tuhannya, bahwa ia telah terputus. Lalu aku bertanya, Berapakah jarak pisah antara dirimu dengan dirinya? Rahim menjawab, Kami bertemu dalam empat puluh jarak.

Dalam hadits mulia ini ada disiplin mengenai kasih sayang bagi hamba, yang bisa mengendalikan liarnya nafsunya, dan ketika bertemu, ia benar-benar menjadi golongan yang saling berserasi.

Dari sebagian kaum arifin yang sampai padaku, ada munajat-munajatnya:

Ilahi, dengan rahim (persaudaraan) kami saling bersambung, dan dengan hati kami bersibuk denganMu.

Anak-anak sekalian! Ketahuilah bahwa para pecinta dalam menempuh jalan ubudiyah dan waktu-waktu munajat terbagai dalam berbagai level. Ada yang munajat dengan bahasa pengakuan bersalah; ada pula yang bermunajat dengan ungkapan bingung dan terdesak; ada pula yang munajat dengan bahasa kebanggan. Seandainya kalangan yang lalai mengetahui, mereka sejenak nafas pun tidak akan mengabaikan.

Pengalaman Suluk


Dony, pemuda yang sangat lugu, memasuki dunia thariqat sufi. Ia disarankan suluk (khalwat secara khusus di pemondokan Sufi) oleh gurunya, 41 hari, karena memang demikian aturannya.

Begitu gembira  ia berangkat ke pesulukan Sufi di Jawa Timur, yang selama hidup belum pernah ia alami. Jangankan suluk, belajar di pesantren pun belum pernah ia lakoni. Semangat Dony berkobar penuh dengan kegembiraan.

Sembari menghitung waktu dari ibukota negeri ini, Jakarta, ia menunggu hari-hari keberangkatan dengan berdebar.

Sampai di Pesulukan, hatinya semakin berdebar, tarik menarik mulai muncul, antara harus menjalani Suluk 41 hari, dengan keinginan segera pulang ke Jakarta.

Hari pertama ia suluk, sudah tidak kerasan di pesulukan. Pikiran dan hatinya ingat Jakarta, keluarga dan anak-anaknya.
Dony coba menguatkan hatinya, tapi tak mampu. Lalu berkemas-kemaslah manata pakaiannya untuk dimasukkan kopor, dan esok hari niat pulang ke Jakarta.

Saya mau pulang Mas.. pintanya pada pengurus pondok.
Lho, kenapa?
Saya nggak kuat…”
Tanya guru dulu sebelum kamu balik ke Jakarta…”
Dony menelpon gurunya, tapi dapat jawaban yang lebih mencekam hatinya.
Kalau kamu besok pagi pulang, nanti kalau kembali lagi malah saya tambah jadi 81 hari…”


Protes Terhadap Allah SWT



Dengan dengus nafas ngos-ngosan,
lelaki bertubuh tambun itu memasuki
kedai Cak San. Ia memesan air putih dua
gelas besar, untuk mengusir dahaganya.
Rupanya pagi yang dingin itu, tidak
mampu menyelimuti kegerahan dadanya.
"Dari mana Mas, kok seperti dikejar
harimau?"
Sembari menegak dua gelas air putih,
lelaki itu masih juga belum menjawab
pertanyaan Pardi.
"Jangan tanya dari mana pada saya.
Tapi saya harus bertanya lebih dulu
kepada anda-anda di sini, kemana itu
Kang Soleh? Saya ingin bikin
perhitungan dengan dia....!"
Mendengar gertakan si gendut itu,
penghuni kedai kopi cukup terhenyak.
Ada apa gerangan Kang Soleh dikejar
manusia heboh seperti dia ini. Apa Kang
Soleh punya hutang, punya kesalahan,
atau ada bratayudha antara Kang
Soleh dengan orang ini? Nggak jelas.
"Sebentar lagi juga datang Pak, sabar
sebentar," sahut Dulkamdi.
"Ya, saya ingin minta
pertanggungjawabannya!"
"Wah, pertanggungjawaban apa Pak,
kok kelihatannya penting sekali," timpal
Pardi memberanikan diri mengorek
masalah orang itu.

Menu Mengenal Diri Mengenal Allah

Menu-menu Istimewa di Cafe Sufi yang akan memberikan cita rasa mengenal diri dan mengenal Allah. Silakan santap dan nikmati.

Menu Mengenal Diri

Di Cafe Sufi, sudah banyak orang berduyun-duyun dengan wajah-wajah beragama, dari mereka yang stress sampai mereka yang kelihatan sumringah, menanti menu apa yang bakal disuguhkan hari ini.

Rupanya di gerbang Cafe itu, terpambang “Menu Istemewa hari ini”. Mereka berkemrumun mebacanya, ingin segera berebut hidangannya. Siapa pun dari mereka merasa belum kenal dirinya sendiri, lalu mereka segera memesan “Menu Mengenal Diri “.

Sajiannya adalah sejumlah menu yang disiapkan dengan bumu-bumbu yang beraroma ma’rifatullah. Karenaa Allah  Swt, menjadikan  sebab kema’rifatan hamba kepada Tuhannya, melalui pengenalan hamba pada dirinya, “Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.”

Maknanya, bumbunya disiapkan oleh kokinya:

Sang koki mengajak sebelum mencicipi masakan ma’rifat ini, agar mereka mengenal dirinya dengan wujud kehambaannya, karena dengan demikian  maka ia mengenal Tuhannya dengan RububiyahNya.

Siapa mengenal dirinya dengan fananya, maka dia mengenal Tuhannya dengan Baqa’Nya.

Siapa yang mengenal dirinya dengan kehampaan dan serba salahlnya, maka ia mengenal Tuhannya dengan keselarasan dan anugerahNya.

Siapa mengenal dirinya dengan rasa butuhnya, maka dia mengenal Tuhannya dengan menegakkan rasa sangat terdesak untuk menuju hanya kepada dan bagi Allah.



Setelah itu mereka diajak secara berjama’ah untuk mengenal dirinya  hanya bagi Tuhannya, maka sedikit sekali kebutuhan kepada selain Allah.

“Apakah masih ada menu tambahan?” Tanya seorang pelanggan.

“Menu ini, dengan bumbu-bumbunya sudah cukup bagi anda. Bagaimana anda merasa kurang ketika belum mulai memasaknya?” kata koki.



Menu Mengenal Allah

Setelah mereka memasak secara bersamaan menu mengenal diri, mereka pun merasakan dan memakannya dengan kondisi ruhani mereka masing-masing. Semakin banyak memakan sajian itu semakin lapar jiwanya, semakin dahaga batinnya, semakin  ingin dan ingin menabah lagi. Sang koki memberikan arahan agar menuju bilik “Ma’rifatullah”.

Bumbunya disiapkan dengan olahan hidayah dariNya. Ditambah dengan cara mengolahnya penuh semangat menegakkan hak-hak RububiyahNya, lalu dirasakan dengan tasyakkur atas balasanNya.

Sebelum memulai, mereka harus bersama-sama melihat dirinya yang fana penuh kehambaan, lalu mulai dengan raihan:

Siapa mengenal Allah melalui hidayah, maka ia pasti menyerahkan sepenuhnya kepadaNya.
Siapa mengenal Allah melalui RububiyahNya, ia tegak dengan prasyarat Ubudiyah kepadaNya.
Siapa mengenal Allah melalui balasanNya, maka terjadilah rasa mohon pertolongan padaNya.
mengenal Allah melalui kecukupan dariNya, maka ia tidak butuh kepada selain DiriNya

Mereka semakin fana’ ketika mencicipinya, bahkan semakin Baqa’ dalam Baqa’Nya, semakin baqa’ malah semakin fana’. Wallahu A’lam, masing-masing merasakan sesuai dengan kesiapan jiwanya.